Orang tua saya tidak main-main saat memberi saya nama
"Muhammad Satria". Ya, Satria, seorang pejuang yang gagah, kuat, dan
berani dalam menghadapi berbagai jatuh bangunnya kehidupan yang keras ini.
Tidak sedikit orang yang mengeluh dalam menghadapi kesulitan dan rintangan
dalam hidup. Namun, menurut "Satria" sejati, kesulitan dan rintangan
yang datang tidak lain adalah untuk mencerdaskan akal dan menguatkan mental
seorang pemenang.
Saya lahir 17 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 6 juli 2001.
Ibu saya pernah berkata bahwa saya adalah anaknya yang paling mudah dilahirkan
dibandingkan dengan tiga saudara saya lainnya. Kakak saya dilahirkan empat
tahun sebelum saya, adik saya yang pertama dilahirkan delapan tahun setelah
saya, dan adik saya yang perempuan dilahirkan satu tahun setelahnya.
Kata orang-orang saya adalah anak yang sangat nakal. Mereka sering
memarahi saya karena perbuatan yang telah saya lakukan. Saya akui kelakuan saya
sangatlah membuat orang lain kesal, contohnya saya pernah berdiri di atas meja
plastik tetangga saya dan menghentak-hentakkan kaki saya, hasilnya meja itu pun
patah dan jebol. Setelah itu mereka memarahi sembari menasehati saya, bahkan
diantara mereka berkata "semoga anak aku tidak seperti dia.
Amit-amit".
Saya adalah cucung yang sangat dekat dengan neneknya. Sejak kecil
apabila kedua orangtua saya bekerja, rumah neneklah yang selalu saya tuju. Di
rumah bersejarah itulah segala senang sedih bersama nenek saya terekam. Nenek
adalah orang yang membela saya ketika orang lain memarahi saya atas kenakalan
saya, lucunya neneklah yang memarahi mereka.
Dibalik kenakalan-kenakalan saya waktu kecil, tidak jarang saya
jatuh sakit panas tinggi hingga step (kejang demam). Sekitar umur 6 atau 7
tahun, saya pernah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawa saya. Ketika
itu saya pergi berkunjung ke rumah paman yang memiliki halaman yang rindang
akan pepohonan, saya bermain dengan sanak saudara saya dibawahnya. Beberapa
hari setelah itu di suatu pagi, saya terbangun dan merasakan badan saya lemas
dan pusing. Saya berangkat dari kamar saya menuju ruang tengah dan berbaring
hingga tertidur sembari menyalakan televisi. Namun, ketika terbangun, saya
sudah berada di dalam mobil dan dikelilingi oleh mama, papa, dan keluarga
lainnya. Mama berkata bahwa kami sedang menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,
dengan tidak sepenuhnya sadar, terlihat disekeliling saya ada dokter dan
beberapa perawat sedang memasang alat infus di tangan kiri saya. Saya menangis
dan memberontak. Satria yang nakal, banyak gerak, dan hyperactive kini tergulai
lemas di atas kasur rumah sakit. Yang bisa saya lakukan hanyalah makan dan
tidur. Dokter mendiagnosis saya terkena penyakit demam berdarah yang cukup
parah. Hingga suatu saat saya tertidur lama, mama saya heran mengapa saya hanya
tidur dari pagi, lalu bibi yang sedang menjenguk saya pada saat itu curiga dan
menekan perut saya. ternyata saya sedang mengalami koma, lalu mama memanggil
perawat dan mereka membawa saya ke ruang ICU.
"Ibu, kalo aja Ibu telat memanggil perawat 10 menit saja, mungkin
Ibu sudah kehilangan satria" kata dokter yang menangani saya. Ketika
siuman yang saya ingat hanyalah alat pendetektor jantung disamping saya dan ruangan
yang asing. "Kakek... Satria kangen kakek.. huhu.." entah apa yang
ada dipikiran saya ketika memanggil-manggil kakek saya yang sudah meninggal
sebelum saya lahir. Seketika itu pula Mama, beserta keluarga menangis mendengar
kata-kata saya.
Saat itu keluarga saya sangat sedih. Mama saya rela melakukan
apapun untuk menyembuhkan anaknya yang kritis ini, hingga ia rela kesana
kemari untuk mencari alternative yang
dapat menyembuhkan penyakit demam berdarah. Beruntungnya kami memiliki asuransi
yang dapat membantu kami dalam usaha penyembuhan penyakit yang sedang saya
alami saat itu. Akhirnya setelah menjalani perawatan yang intensif, saya
berhasil melawan virus demam berdarah. Seiring berjalannya waktu kondisi saya
berangsur-angsur membaik, akhirnya saya pun sembuh.
Di sekolah dasar, saya bukanlah anak yang pintar dalam akademik.
Namun, saya memiliki keahlian dalam non-akademik, seperti bela diri Taekwondo.
Saya mulai latihan Taekwondo dari kelas I SD, saya juga sering mengikuti
berbagai perlombaan, alhasil saya berhasil mendapatkan beberapa medali tingkat
provinsi dan kota. Karena prestasi yang saya miliki itulah yang dapat
memudahkan saya untuk masuk ke SMP Negeri 31 Bandar Lampung.
Saat memasuki jenjang SMP, saya masih tidak berfokus kepada
akademik, saya mengikuti ekstrakurikuler paskibra dan mendapatkan banyak juara
dalam kompetisi baris berbaris se-Provinsi Lampung. Dalam mengikuti
ekstrakurikuler ini kepribadian saya ditempa untuk menjadi orang yang disiplin,
menghormati NKRI, dan kebersamaan. Selain paskibra, saya juga direkomendasikan
untuk menjadi calon ketua OSIS periode 2015-2016, yakni di kelas VIII, dan saya
pun terpilih. Karena OSIS inilah saya lebih berani berbicara di depan umum.
Namun, di kelas VIII juga saya tersadar akan ilmu yang harus saya miliki di
masa mendatang. Akhirnya saya mencoba untuk menyeimbangkan akademik dan
non-akademik. Hasilnya saya mendapatkan peringkat kedua di kelas saya.
Di kelas III SMP, saya semakin berfokus terhadap materi-materi
akademik untuk menunjang pendidikan selanjutnya, yaitu SMA. Pada saat itu saya
sangat tertarik kepada sekolah yang berbasis semi-militer seperti SMA
Kebangsaan Lampung Selatan dan SMA Taruna Nusantara, karena sejak saya kecil
orang tua saya sangat menginginkan saya untuk menjadi seorang polisi. Itulah
mengapa saya termotivasi untuk menjadi seorang polisi bahkan seorang KAPOLRI
sekalipun demi membanggakan mereka. Di semester kedua kelas III SMP, saya mulai
mendaftarkan diri saya ke salah satu sekolah berbasis semi-militer di Lampung
yaitu SMA Kebangsaan Lampung Selatan.
Setelah menjalani beberapa tahap seleksi seperti seleksi berkas,
tes fisik, tes akademik, dan wawancara, saya yakin akan lolos dan diterima
sebagai siswa di SMA tersebut. Namun, pada saat pengumuman 185 nama siswa yang
lolos, saya tidak termasuk di dalamnya. Pada saat itu saya merasa sangat sedih,
kecewa, dan frustasi. Bagaimana tidak, SMA Kebangsaan yang ruang lingkupnya
provinsi saja saya tidak lolos apalagi untuk SMA Taruna Nusantara yang ruang
lingkupnya Nasional. akhirnya saya hanya menargetkan nilai UN saya untuk masuk
minimal sekolah negeri unggul di daerah saya.
Beberapa minggu setelah seleksi tersebut, ada sosialisasi di SMP
saya tentang beasiswa dari PemProv Lampung untuk bersekolah di SMA Sampoerna
Academy Boarding School (di Bogor pada saat itu). Mengingat hasil seleksi SMA
Kebangsaan beberapa minggu sebelumnya, saya tidak tertarik akan tawaran
beasiswa itu karena saya yakin tidak akan terpilih, apalagi hanya 8 siswa yang
terpilih dari banyaknya pendaftar di Provinsi Lampung.